Sulitnya mengatur waktu

Semenjak saya pindah ke Jogja, banyak sekali perubahan yang harus saya lakukan. Terutama masalah waktu.  Posting ini terinspirasi tulisan pak BR di sini. Jadi kita lihat apakah saya terlalu sibuk sehingga postingan di blog sangat menurun.

Jaman dahulu ketika masih di Bali, banyak sekali waktu yang kurang dimaksimalkan. Masih terlalu sering hanya didepan layar laptop/LCD mulai dari hari senin – jum’at. Untuk hari sabtu-minggu lebih banyak jalan-jalan bersama teman-teman, atau kalau tidak ya molor di kost.

Posting di blog ini juga cukup sering, paling tidak sebulan 2 kali, tetapi sekarang ini bisa posting sebulan sekali saja sudah bagus. Kenapa bisa begitu?

Jadi  sewaktu saya di Bali, saya seperti bujangan saja. Lho? Lha iya, saat itu anak dan istri tinggal di Jogja. Sekarang ini saya sudah berkumpul dengan anak & istri. Tentunya ada perbedaan dong.

Ok lah, tapi masa sampe tidak sempat mengupdate blog?

Coba saya lihat-lihat dulu postingan saya. Oh, ternyata kebanyakan tentang foto. Dan menurut pak BR, beliau posting foto/tulisan pendek-pendek kalo sedang sibuk. Lha? Berarti postingan saya ini menandakan kesibukan yang sudah dimulai dari dulu. Tenyata tidak terlalu mirip untuk kasus saya. Saya posting foto-foto karena lagi senang memotret apa saja. Selain itu, saya tidak punya banyak ide untuk dituangkan dalam kata-kata. Entah kenapa ide saya selalu mentok di judul, setelah itu tidak ada ide untuk isinya :).

Sampai di sini kok belum nyambung dengan judul postingan ya? :) Ok, kembali ke judul postingan. Kenapa kok judulnya begitu? Emang kita siapa kok mau mengatur waktu. Yang ada kita yang menyesuaikan dengan waktu. Waktu tidak akan berhenti, apalagi berputar kebelakang.

Kehidupan saya di Jogja sekarang ini lebih dinamis. Banyak kegiatan yang dahulut tidak pernah saya lakukan, tetapi sekarang ini sangat enjoy untuk melakukannya.

Rutinitas setiap hari saya sebenarnya sedikit: tidur, ngurus Zahwah, kerja, bermain dengan Zahwah, tidur lagi. Itu saja setiap hari, tetapi rasanya waktu berjalan dengan cepat. Ketika pulang kerja, jatah bermain saya dengan Zahwah tinggal 1 jam-an saja, karena setelah itu sudah bobo’. Besoknya begitu lagi.

Hari sabtu-minggu yang pada umumnya adalah hari libur, nyatanya tidak berlaku bagi saya. Terutama dalam setahun kedepan. Saya harus berjuang pada sabtu-minggu agar bisa lulus sesuai target. Belum lagi saya sering juga begadang untuk mengerjakan tugas. Tetapi saya tetap tersenyum saat mengerjakan tugas dipagi hari, Zahwah merangkak mendekat dan minta gendong/minta ikutan mengetik (mukul-mukul) keyboard laptop.

Antara Ide dan Implementasi

Kadangkala saya mempunyai beberapa ide, dan juga ada beberapa keinginan yang harus dilaksanakan. Tetapi melihat hal-hal diatas (baca: sulitnya mengatur waktu), terpaksa keinginan/ide tersebut menguap ataupun ditunda :).

Salah satu keinginan saya adalah motret lagi. Jangan diasumsikan saya ini seorang fotografer, itu terlalu berlebihan. Saya hanya suka motret saja. Kebanyakan hasil motret saya nikmati sendiri, kadang-kadang istri saya juga suka kasih komentar, kalau anak saya belum bisa komentar :).

Tetapi terbentur dengan waktu yang sangat sempit, ternyata keinginan saya itu belum tercapai. Kenapa tidak motret aktifitas dari rumah – kantor? Lha, rumah – kantor cuma butuh 10 menit naik motor. Selain itu tidak setiap hari saya membawa kamera ke kantor. Semoga saja jum’at ini ada kesempatan untuk motret gerebeg maulud di Alun-alun utara kraton Yogyakarta.

Keinginan lain adalah naik sepeda ke kantor. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, dan juga saya ternyata sudah sangat jarang berolah-raga. Tidak salah dong ide ini. Tapi kendalanya adalah tidak ada sepeda. Beli? Nah ini kendala kedua, belum ada budget. Tetapi semoga saja bulan depan sudah bisa terealisasikan. Amin.

Ada usaha perbaikan?

Tentunya saya tidak mau terus-menerus mengikuti rutinitas ini, harus ada inovasi biar tidak terasa membosankan. Saya harus bisa lebih disiplin lagi dalam membuat jadwal. Variasi jadwal juga perlu dilakukan. Liburan bersama keluarga harus juga dipikirkan.

Masih beruntung?

Kalau dipikir-pikir, saya masih cukup beruntung karena masih ada waktu untuk ini-itu. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya saya tinggal di Jakarta. Membayangkan waktu tempuh untuk berangkat dan pulang dari kantor saja sudah pusing.

Lho, kok sudah panjang. Ternyata nulis begini saja membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk berfikir.

Comments

  1. By Vavai

    Reply

  2. Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: