Posted (Aris Priyantoro) in Jalan-Jalan, Personal, Yogyakarta, jogja on March-11-2010

Bagi anda yang tiap hari melakukan perjalanan dari Kutoarjo-Jogja-Solo atau sebaliknya tentu sudah tahu jadwal terbaru dari kereta api Prambanan Ekspress (pramek) ini. Oh iya, kereta pramek ini menambahkan beberapa kereta tambahan. Solusi ini mungkin dibuat agar penumpuang tidak berjubel didalam kereta. Tetapi sayangnya kereta tambahan ini hanya beroperasi di hari-hari tertentu saja, tidak setiap hari.

Dahulu saya pernah membuat postingan tentang jadwal kereta pramek disini. Tentu saja jadwal tersebut sudah tidak valid lagi. Untuk jadwal yang valid, silahkan lihat gambar berikut (klik pada gambar untuk melihat tampilan lebih besar).

Tarif untuk perjalanan dari Jogja-Solo / Jogja-Kutoarjo (dan sebaliknya) masih Rp. 8.000,- tetapi kabarnya tarif ini akan dinaikkan menjadi Rp. 9.000,- dalam waktu dekat ini.


 
    
Posted (Aris Priyantoro) in Internet, Review on March-4-2010

Selama dua tahunan saya setia menggunakan telkomsel flash sebagai layanan internet unlimited. Saya tetap bertahan memakai kartu ini walaupun dahulu kecepatannya hancur-hancuran. Saat itu teman-teman pindah ke XL Unlimited maupun IM2.

Saya mengalami masa kuota untuk paket basic mulai dari 3GB, turun menjadi 2GB, dan 500MB. Tetapi pada akhirnya saya tidak bisa setia lagi dengan keadaan ini. Kuota sudah disunat menjadi 500MB, koneksi sekarang ini parah sekali. Kalaupun koneksi agak normal, saya harus kecewa dengan speed yang turun gara-gara 500MB habis dalam waktu 5 hari untuk penggunaan normal (bukan downloader).

Sekarang ini saya sedang mencari alternatif lain untuk koneksi internet unlimited yang reliable. Reliable dalam arti koneksi cukup stabil, speed sesuai dengan janji, kuota lebih manusiawi dan kalau bisa harganya lebih murah dari telkomsel flash.

Dari beberapa survey berikut ini alternatif internet unlimited selain telkomsel flash.

1. Three

Dari situs three, paket internet unlimited adalah  up to 3.6 mbps untuk jaringan HSPA. Kelemahannya, jaringan HSPA ini baru ada di Jakarta, Tangerang dan Bali. Untuk tempat tinggal saya(Jogja) belum terjangkau, kalau memaksa terpaksa mentok di EDGE. Biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 85.000,-

2. IM2

Paket internet unlimited dari IM2 yang paling cocok buat saya untuk saat ini adalah Broom Bastis. Tetapi masalahnya adalah paket isi ulangnya harus Rp. 200.000,- tiap bulan. Speed up to 256 kbps dan Kuota 3GB.

3. Mobi

Fren dengan Mobi juga memberikan layanan internet unlimited. Untuk paket unlimited 100 mobi memberikan speed up to 1mbps. Kuota yang diperoleh adalah 1.5GB dengan biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp. 100.000,- per bulan.

4. Smart

Smart menawarkan paket internet unlimited yang paling menggiurkan. Hanya dengan paket silver kita akan mendapatkan speed download up to 512kbps. Biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp. 75.000,- per bulan. Tetapi sayang, saya harus membeli modem CDMA yang support EVDO Rev. A agar mendapatkan speed yang optimal.

5. XL

Bulan februari 2010 kemaren XL meluncurkan paket internet unlimited untuk kota Jakarta – Bandung – Surabaya – Medan. Duh, karena Jogja  tidak tercover, maka tidak dapat menjadi alternatif bagi saya. Sepertinya bisa menggunakan layanan internet unlimited yang dahulu pernah diluncurkan oleh XL, tetapi sangat susah untuk mendapatkan kartu perdananya, selain itu harganya pasti tidak masuk akal.

6. Flexi

Telkom flexi akhirnya mengikuti jejak operator lain untuk meluncurkan paket internet unlimited. Dengan speed yang tanggung yaitu 153kbps diperlukan biaya Rp. 50.000,- setiap bulannya.

Dari beberapa alternatif diatas, hanya Smart, Mobi, dan Flexi yang masuk dalam list saya. Untuk Smart saya sudah pernah mencoba dirumah dengan modem pinjaman, yang lain akan segera menyusul untuk diujicoba. Setelah selesai ujicoba tinggal action untuk membeli modem CDMA yang support EVDO dan menutup telkomsel flash sekaligus kartu halo.


 
    
Posted (Aris Priyantoro) in Personal, Yogyakarta, jogja on February-23-2010

Semenjak saya pindah ke Jogja, banyak sekali perubahan yang harus saya lakukan. Terutama masalah waktu.  Posting ini terinspirasi tulisan pak BR di sini. Jadi kita lihat apakah saya terlalu sibuk sehingga postingan di blog sangat menurun.

Jaman dahulu ketika masih di Bali, banyak sekali waktu yang kurang dimaksimalkan. Masih terlalu sering hanya didepan layar laptop/LCD mulai dari hari senin – jum’at. Untuk hari sabtu-minggu lebih banyak jalan-jalan bersama teman-teman, atau kalau tidak ya molor di kost.

Posting di blog ini juga cukup sering, paling tidak sebulan 2 kali, tetapi sekarang ini bisa posting sebulan sekali saja sudah bagus. Kenapa bisa begitu?

Jadi  sewaktu saya di Bali, saya seperti bujangan saja. Lho? Lha iya, saat itu anak dan istri tinggal di Jogja. Sekarang ini saya sudah berkumpul dengan anak & istri. Tentunya ada perbedaan dong.

Ok lah, tapi masa sampe tidak sempat mengupdate blog?

Coba saya lihat-lihat dulu postingan saya. Oh, ternyata kebanyakan tentang foto. Dan menurut pak BR, beliau posting foto/tulisan pendek-pendek kalo sedang sibuk. Lha? Berarti postingan saya ini menandakan kesibukan yang sudah dimulai dari dulu. Tenyata tidak terlalu mirip untuk kasus saya. Saya posting foto-foto karena lagi senang memotret apa saja. Selain itu, saya tidak punya banyak ide untuk dituangkan dalam kata-kata. Entah kenapa ide saya selalu mentok di judul, setelah itu tidak ada ide untuk isinya :) .

Sampai di sini kok belum nyambung dengan judul postingan ya? :) Ok, kembali ke judul postingan. Kenapa kok judulnya begitu? Emang kita siapa kok mau mengatur waktu. Yang ada kita yang menyesuaikan dengan waktu. Waktu tidak akan berhenti, apalagi berputar kebelakang.

Kehidupan saya di Jogja sekarang ini lebih dinamis. Banyak kegiatan yang dahulut tidak pernah saya lakukan, tetapi sekarang ini sangat enjoy untuk melakukannya.

Rutinitas setiap hari saya sebenarnya sedikit: tidur, ngurus Zahwah, kerja, bermain dengan Zahwah, tidur lagi. Itu saja setiap hari, tetapi rasanya waktu berjalan dengan cepat. Ketika pulang kerja, jatah bermain saya dengan Zahwah tinggal 1 jam-an saja, karena setelah itu sudah bobo’. Besoknya begitu lagi.

Hari sabtu-minggu yang pada umumnya adalah hari libur, nyatanya tidak berlaku bagi saya. Terutama dalam setahun kedepan. Saya harus berjuang pada sabtu-minggu agar bisa lulus sesuai target. Belum lagi saya sering juga begadang untuk mengerjakan tugas. Tetapi saya tetap tersenyum saat mengerjakan tugas dipagi hari, Zahwah merangkak mendekat dan minta gendong/minta ikutan mengetik (mukul-mukul) keyboard laptop.

Antara Ide dan Implementasi

Kadangkala saya mempunyai beberapa ide, dan juga ada beberapa keinginan yang harus dilaksanakan. Tetapi melihat hal-hal diatas (baca: sulitnya mengatur waktu), terpaksa keinginan/ide tersebut menguap ataupun ditunda :) .

Salah satu keinginan saya adalah motret lagi. Jangan diasumsikan saya ini seorang fotografer, itu terlalu berlebihan. Saya hanya suka motret saja. Kebanyakan hasil motret saya nikmati sendiri, kadang-kadang istri saya juga suka kasih komentar, kalau anak saya belum bisa komentar :) .

Tetapi terbentur dengan waktu yang sangat sempit, ternyata keinginan saya itu belum tercapai. Kenapa tidak motret aktifitas dari rumah – kantor? Lha, rumah – kantor cuma butuh 10 menit naik motor. Selain itu tidak setiap hari saya membawa kamera ke kantor. Semoga saja jum’at ini ada kesempatan untuk motret gerebeg maulud di Alun-alun utara kraton Yogyakarta.

Keinginan lain adalah naik sepeda ke kantor. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, dan juga saya ternyata sudah sangat jarang berolah-raga. Tidak salah dong ide ini. Tapi kendalanya adalah tidak ada sepeda. Beli? Nah ini kendala kedua, belum ada budget. Tetapi semoga saja bulan depan sudah bisa terealisasikan. Amin.

Ada usaha perbaikan?

Tentunya saya tidak mau terus-menerus mengikuti rutinitas ini, harus ada inovasi biar tidak terasa membosankan. Saya harus bisa lebih disiplin lagi dalam membuat jadwal. Variasi jadwal juga perlu dilakukan. Liburan bersama keluarga harus juga dipikirkan.

Masih beruntung?

Kalau dipikir-pikir, saya masih cukup beruntung karena masih ada waktu untuk ini-itu. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seandainya saya tinggal di Jakarta. Membayangkan waktu tempuh untuk berangkat dan pulang dari kantor saja sudah pusing.

Lho, kok sudah panjang. Ternyata nulis begini saja membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk berfikir.